BLANTERAFFILIASHOPv101

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (1)

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (1)

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro, Lembaga Pendidikan dan Deradikalisasi, Mengapa Perlu Deradikalisasi Pemahaman Agama

Sekolah sebagai tempat pendidikan anak dituntut melaksanakan pendidikan dengan kegiatan belajar mengajar untuk mengajarkan konsep-konsep ilmu kepada siswa. Selain itu, sekolah juga dituntut mengembangkan minat dan bakat siswa sebagai peserta didik. Langkah ini tidak hanya dilaksanakan secara klasikal dalam kegiatan intrakurikuler akan tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang ideal sudah semestinya dapat:

a. Membantu anak muda mengembangkan komunikasi dan keterampilan interpersonal yang mereka butuhkan untuk berdialog, menghadapi perselisihan dan belajar berbagai pendekatan.

b. Membantu peserta didik mengembangkan pemikiran kritis mereka untuk menyelidiki klaim, memverifikasi rumor dan mempertanyakan legitimasi dan daya tarik keyakinan ekstremis.

c. Membantu peserta didik mengembangkan ketahanan untuk melawan narasi ekstrimis dan memperoleh keterampilan sosial emosional yang mereka butuhkan untuk mengatasi keraguan mereka dan terlibat secara konstruktif dalam masyarakat tanpa harus menggunakan kekerasan.

d. Mengembangkan sikap kritis terhadap informasi dan membantu peserta didik agar mampu terlibat dalam tindakan kolektif damai secara konstruktif.

Upaya deradikalisasi melalui kegiatan kurikuler tidaklah cukup. Pemberian pendidikan agama diluar jam pelajaran agama juga diberikan melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa. SMAN 1 Kota Metro memberikan tambahan pelajaran agama melalui kegiatan ekstrakurikuler Rohis. 

Melalui kegiatan ini, siswa mendapakan banyak materi pembelajaran yang tidak didapatkan di kegiatan instrakurikuler. Rohis merupakan bagian dari struktur Organisasi Intra Sekolah (OSIS) yang mengurusi acara-acara keislaman seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad, Isra’ Mi’raj, Halal Bihalal dan juga acara-acara pengajian di sekolah. 

Istilah Rohis pada awalnya dikenal di lingkungan aktivis dakwah kampus sebagai ruang aktivitas keagamaan di lingkungan kampus. Setelah gerakan dakwah mulai berkembang sampai menjangkau Sekolah Menengah Atas, istilah Rohis identik dengan kegiatan keagamaan di lingkungan SMA. Namun, saat sekarang Rohis juga mulai berkembang di level Sekolah Menengah Pertama. Pada awalnya, ROHIS merupakan sebuah kegiatan untuk menunjang ma

Kegiatan Rohis di SMA tidak hanya diperuntukkan bagi pengurusnya, namun juga bagi siswa-siswi muslim secara umumdi sekolah tersebut. Hal tersebutmemberikan peluang bagi Rohis untuk melakukan penanaman nilai-nilai toleransi kepada setiap siswa muslim. Selain itu, sebagian pengurus Rohis juga aktif di berbagai ekstrakurikuler lain. Hal tersebut memberikan kesempatan kepada pengurus Rohis untuk memberikan pengaruhnya kepada organisasi ekstrakurikuler lain di sekolah tersebut.

Rohis di satu sisi memang bisa menjadi wahana pendalaman pemahaman dan pengamalan agama Islam, bila dilaksanakan secara tepat oleh orang dan metode yang tepat pula. Namun demikian menurut Farid Wajidi bahwa dominasi Rohis di sekolah telah mendiskriminasi ekspresi kebebasan yang lain dan menurutnya ihwal ini bisa dalam konteks tertentu dapat memicu lahirnya intoleransi di kalangan remaja. 

Siswa siswi tampak selalu menegosiasikan, bahkan mengontestasikan identitas mereka berhadapan dengan dominasi Rohis tersebut di ruang publik sekolah. Dengan kata lain, ada dimensi “agency” yang membuat siswa selalu mempertanyakan, bahkan menolak praktik-praktik keislaman Rohis yang mereka anggap dominan dan terkadang “konservatif”.

Aktifis Rohis cenderug eksklusif, terutama di sekolah-sekolah umum, dalam arti bukan di bawah payung Departemen Agama seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau pesantren. Hal tersebut bisa dipahami karena sekolah model ini sudah memberikan porsi lebih untuk pendidikan agama di kelas, sehingga tidak membutuhkan lagi kegiatan ekstra di luar kelas. Untuk kegiatan yang berkaitan dengan perayaan hari besar Islam dan lain sebagainya biasanya dikelola oleh seksi keagamaan di dalam kepengurusan OSIS.

Untuk beberapa sekolah yang memiliki kegiatan pengajian maupun kultum rutin, memperhatikan pengisi acara atau pengsisi kultum juga penting. Jangan sampai pengisi acara pengajian atau kultum memasukan doktrin-doktrin agama yang radikal. 

Oleh sebab itu, informasi tentang latar belakang pendidikan dan afiliasi organisasi sosial-politik dari pengisi acara pengajian atau kultum di sekolah (terutama yang berasal dari luar sekolah) sangat penting dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pengaruh paham keagamaan yang dibawa oleh pengisi acara pengajian kegiatan terhadap para siswa. 

Pasca munculnya paham dan gerakan radikal yang meresahkan warga masyarakat dalam satu dekade terakhir ini, sekolah menengah atas bisa saja menjadi ladang yang subur untuk menanam benih-benih radikalisme. Terlebih bagi sekolah menengah atas yang berbasis keagamaan. Berdasarkan hal ini, sekolah melakukan filter terhadap materi dan materi yang disampaikan oleh para tutor dalam kegiatan ekstrakurikuler pembinaan agama Islam oleh Rohan

Sekolah Menengah Ma’arif 1 Kota Metro malah tidak melakukan f ilter secara ketat terhadap tutor yang memberikan materi keagamaan pada kegiatan ekstrakurikuler. Untuk kegiatan rutinan sekolah seperti kultum atau pengajian setiap minggu disekolah, biasanya pengisi kultum atau pengajian berasal dari guru PAI sendiri. 

Sementara itu, untuk acara acara besar keislaman seperti peringatan Maulid Nabi, pesantren kilat, songsong Ramadhan dan kegiatan-kegiatan lain, maka engsisi acara bisa berasal dari guru PAI sendiri dan sebagian berasal dari luar sekolah. Jika pengisi acara kegiatan berasal dari guru PAI sendiri, pihak sekolah telah mengenal secara dekat. 

Namun bila pengisi kegiatan keagamaan berasal dari luar, pada dasarnya banyak pihak yang tidak kenal dan atau kalaupun tahu tapi tidak lengkap.259 Hal ini menunjukkan bahwa pihak sekolah yang berafiliasi dengan Ma’arif lebih terbuka dan memberikan kesempatan kepada pihak luar untuk memberikan materi keagamaan pada kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Selanjutnya.... Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (2)

Produk Lainnya