BLANTERAFFILIASHOPv101

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (1)

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (1)

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital, Deradikalisasi melalui Kegiatan Kulikuler: Sharing dari Kota Metro Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro, Lembaga Pendidikan dan Deradikalisasi, Mengapa Perlu Deradikalisasi Pemahaman Agama

Adanya pondok pesantren di Indonesia karena adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang mendapatkan ruang khusus di mata masyarakat. Hal ini di buktikan dengan penerimaan masyarakat atas segala kegiatan pesantren yang mengikut sertakan lingkungan sekitarnya. Dalam kegiatan-kegiatan pondok pesantren tersebut mendapat dukungan penuh serta apresi dari masyarakat yang pada akhirnya pesantren berkembang dengan pesat.

Ki Hajar Dewantara dalam hidupnya pernah bercita-cita untuk membangun sistem pendidikan di Indonesia setara dengan sistem

pendidikan di pondok pesantren. Ini dikarenakan budaya pembelajaran di pesantren sangat menunjukkan budaya dari Indonesia sendiri.182 Namun sayangnya, Pondok Pesantren menjadi salah satu aset pedidikan di Indonesia yang tidak seluruhnya di abaikan. Beberapa pondok pesantren pedalaman desa cenderung dibiarkan berjalan sendiri tanpa akomodir yang baik dari pendidikan nasional sendiri. 

Padahal sumbangsih pesantren terhadap pengembangan sumber daya manusia di Indonesia sangat besar. Terbukti beberapa tokoh nasional dan pasukan perlawanan penjajah adalah santri dari pondok pesantren. Karakter dari kesederhanaan dan kerakyatan dari pondok pesantren sendiri merupakan potensi yang perlu diperhatikan dan dijaga agar menjadi potensi yang terprogram pada pengembangan sumbar manusia.

Pergerakan arus globalisasi saat ini yang biasanya mengubah arus sosial nyatanya tidak menggoyahkan nilai-nilai moral yang menjadi pegangan pokok bagi masyarakat dari suatu lembaga Arus globalisasi yang kian hari semakin deras tidak menggoyahkan nilai-nilai moral yang menjadi pegangan pokok bagi civitas pesantren. 

Bahkan tatanan moral dari pondok pesantren inilah yang menjadi ciri khas dari pondok pesantren itu sendri. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar atau acuan dalam seluruh kegiatan ataupun tnidak laku yang terjadi dalam sistem pendidikan yang dikembangkan dalam pondok pesantren tersebut.

Pola pendidikan di pesantren memang terkenal unik dan ekslusif, dalam beberapa prespektif, pendidikan di Pesanten selalu memberi kesan tradisional, klasik serta apa adanya. Dalam sisi antropologis, pesantren dapat dibaca dari beberapa aspek yaitu sebagai lembaga pendidikan, juga bisa sebagai identitas masyarakat tempat pondok pesantren didirikan. 

Tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, Pondok pesantren juga mampu menjawab terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, pesantren adalah medium budayanya. 

Hanya saja KH. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa sangat jarang orang memandang pondok pesantren seperti itu lembaga pendidikan sosial kemasyarakatan. Dari pondok pula masyarakat didik dalam kehidupan praktis dan mendidik santri untuk dapat menjalankan peran sosial (sosial role) dalam masyarakat.

Dalam memenuhi kebutuhan keilmuan masyarakat, pondok pesantren termasuk telah mengakomodir kebutuhan tersebut. Selain itu pondok pesantren telah melakukan modernisasi sistem pendidikannya tidak hanya pada ilmu agama saja, pesantren juga mengajarkan mata pelajaran yang ada dalam sistem pendidikan nasional. Dengan sistem pendidikan seperti ini maka pondok pesantren tidak hanya dapat bertahan tetapi bisa berkembang tanpa tertinggal dengan zaman.

Perkembangan Zaman yang pesat menuntut pesantren untuk dapat menyesuaikan diri dengan melakukan urbanisasi intelektual. Santri yang tadinya hanya belajar dan mengkaji kitab kuning, menggunakan sarung dan peci, dapat bertransformasi menuju kajian buku digital, menggunakan celana dengan tidak meninggalkan “rasa kesantriannya”. 

Perubahan ini sering disebut “santri kota”. Bahkan santri yang dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi luar negeri menjadi bibit pesantren yang memiliki kualitas tinggi dibandingkan santri yang lainnya. 

Banyak contoh yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kalangan santri terlebih yang telah mengenyam pendidikan tinggi telah menunjukkan prestasinya dalam kontribusi keilmuan, pengabdian dan kreativitas dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan.

Beberapa intelektual dan cendekiawan yang berasal dari pondok pesantren yaitu Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, Faqih Usman, Abdurrahman Wahid, Arif Zamhari, hingga Nurkholis Madjid yang tidak hanya berkiprah di tingkat nasional namun juga berkiprah besar di Internasional. Beberapa dari Tokoh-tokoh ini menurut Dawam Raharjo disebut sebagai kiai intelek dan ulama cendikiawan.

Selanjutnya.... Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (2)

Produk Lainnya