BLANTERAFFILIASHOPv101

Media Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam

Media Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam

Media Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam,Proses Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam, Mengenal Radikalisasi (Radikalisasi & Deradikalisasi), Radikalisme dan Terorisme, Islamisme, Radikalisme dan Terorisme, Menelisik Faktor Radikalisme Agama, Karakteristik Radikalisme Agama, Memahami Makna Radikalisme (Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam) , Idwar Anwar, Radikalisme
Menurut Abdul Munip, setidaknya ada lima sarana yang lazim digunakan dalam penyebaran paham radikal, yaitu 1) melalui pegkaderan organisai, 2) Melalui masjid-masjid yang berhaluan radikal, 3) Melalui majalah, buletin, dan booklet. Penyebaran ideologi radikalisme juga dilakukan melalui majalah, buletin dan booklet, 4) Melalui penerbitan buku-buku, 5) Melalui internet. Selain menggunakan media kertas, kelompok radikaljuga memanfaatkan dunia maya untuk menyebarluaskan buku-buku dan informasi tentang jihad.

Radikalisasi dilaksanakan oleh kelompok radikal dan kelompok teroris melalui anggota mereka, media yang mereka manfaatkan meliputi: komunikasi langsung, media massa, lembaga pendidikan, dan hubungan kekeluargaan. Berikut bagan media penyebaran paham Islam radikal yang biasa digunakan.

Berdasarkan gambaran dan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa media radikalisasi yang digunakan oleh kelompok radikal teroris berkembang mengikuti perkembangan media informasi dan telekomunikasi. Pada bagan yang dikemukakan oleh Golose, internet tidak masuk bagian dari media radikalisasi, karena kerangka Golose tersebut dibuat sebelum tahun 2010, dimana media internet belum terlalu banyak digunakan seperti saat ini. 

Namun menurut Munip, internet adalah bagian dari media radikalisai, karena pernyataan munip muncul saat media internet telah banyak digunakan oleh masyarakat, telebih media sosial. Bagan di atas menunjukkan bahwa lembaga pendidikan juga bisa menjadi media penyebaran radikalisme agama. Lembaga pendidikan yang menjadi media dan sekaligus tempat radikalisasi tidak hanya pesantren dan perguruan tinggi, akan tetapi juga sekolahan. 

Perekrutan menjadi tahapan awal bertujuan memilih individu yang akan menjalani proses menjadi radikal. Pada tahapan ini, individu target diseleksi berdasarkan beberapa kriteria, seperti umur, agama, tingkat pendidikan, perekonomian, status sosial dan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. 

Selanjutnya adalah tahapan pengidentifikasian diri yang bertujuan untuk mengetahui jati diri target dalam pemahaman ilmu agama Islam berserta tingkat kepuasan diri terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik. Kemudian, secara sengaja target dibuat untuk tidak memiliki pemikiran yang kritis. Tahap berikutnya adalah indoktrinasi, yaitu pengajaran paham atau ideologi radikal dan teroris kepada targetnya secara intensif. 

Tujuan utama indoktrinasi adalah membuat target menjadi percaya dan yakin sepenuhnya, bahawa ajaran yang ditanamkan kepada mereka merupakan kebenaran mutlak, dan tidak perlu dibantah atau dikritisi lagi. Tahap terakhir adalah jihad yang disesatkan. 

Dalam tahap ini, target yang sudah termasuk ke dalam kelompok kecil (sel) dari organisasi radikal atau teroris akan menerima kewajiban secara pribadi untuk ikut serta dalam jihad. Targetpun yang menentukan dirinya sebagai tentara Allah atau mujahidin. 

Akhirnya, kelompok tersebut akan mulai merencanakan operasi untuk serangan teror dengan menggunakan konsep ajaran jihad yang telah disesatkan.

Produk Lainnya