BLANTERAFFILIASHOPv101

Mengapa orang bisa Menjadi Radikal dan Dampak Radikalisasi Pemahaman Agama

Mengapa orang bisa Menjadi Radikal dan Dampak Radikalisasi Pemahaman Agama

Mengapa orang bisa Menjadi Radikal dan Dampak Radikalisasi Pemahaman Agama , Radikalisasi melalui Pemahaman Agama, Media Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam,Proses Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam, Mengenal Radikalisasi (Radikalisasi & Deradikalisasi), Radikalisme dan Terorisme, Islamisme, Radikalisme dan Terorisme, Menelisik Faktor Radikalisme Agama, Karakteristik Radikalisme Agama, Memahami Makna Radikalisme (Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam) , Idwar Anwar, Radikalisme

Rahimullah et. al. Menyebutkanbahwa setidaknya ada tiga faktor pendorong yang menjadi media radikalisasi, yaitu: 

Pertama, rekrutmen. Rekrutmen ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik langsung maupun tidak langsung. 

Kedua, Peran media radikal dan internet. Media radikal dapat menuntun dan mengarahkan seseorang menjadi radikal. Hal ini karena media, khususnya yang online dapat bebas mengekspos konten konten radikalisasi. Selain itu, internet tanpa sensor dapat dengan mudah memperkenalkan meradikalisasi penggunanya. 

Ketiga, even pendorong atau pendukung aksi radikal, seperti isu-isu sosial ekonomi politik dan budaya atau doktrin dan ajaran agama yang dapat memotivasi seseorang untuk berbuat radikal. 

Pengangguran, mahalnya biaya hidup ketidakadilan dalam distribusi peran sosial dan ekonomi bisa menjadi pendorong kuat bagi munculnya gerakan radikal. Pemicu juga dapat mencakup peristiwa yang menyerukan pembalasan atau reaksi seperti serangan pada anggota ingroup lain atau kelompok (seperti serangan terhadap Islam), pemilihan diperebutkan, dan kurangnya kesempatan politik.

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Umat Islam Indonesia juga dikenal sebagai umat yang toleran dan inklusif, maka meskipun jumlahnya mayoritas, mereka dapat hidup berdampingan dengan harmonis dengan berbagai penganut agama lain. 

Namun, beberapa tahun terkahir ada perkembangan yang cukup mengagetkan, kesan toleran dan harmoni cukup terganggu dengan beberapa aksi sebagian orang Islam yang melakukan tindakan intoleran bahkan tindakan destruktif melalui aksi teror. Kesan demikian untuk beberapa tahun terakhir ini terdekonstruksi, karena eskalasi konflik berlatar agama semakin massif terjadi.

Pemahaman agama secara eksklusif dapat menjadi lahan subur bagi berkembangnya radikalisme. Sebab, salah satu faktor fundamental yang menyebabkan radikalisme, menurut Stark, adalah ketika agama difahami dan diajarkan dengan corak ekslusif-partikularistik. 

Corak penyebaran agama ini akhirnya menopang berkembangnya partikularisme, keyakinan bahwa agama yang dipeluknya adalah satu-satunya agama yang benar. Beberapa ciri penyebaran faham ketuhanan dengan corak ekslusif-partikularistik adalah penanaman keimanan yang kokoh dengan pendekatan doktrinernya, tanpa kompromi, dan normatif.

Para pelaku aksi teror umumnya mendapatkan doktrin pemikiran akstrim dan radikal melalui proses radikalisasi. Radikalisasi yang paling sering dikaitkan dengan aksi teror adalah radikalisasi berbasis paham agama. Banyak literatur tentang radikalisasi bahkan berfokus pada ekstrimisme Islam dan terorisme jihad. 

Namun, hal ini memang tidak terlepas dari berbagai aksi kekerasan dan teror yang sering terjadi, khususnya pasca tragedi runtuhnya menara World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001. Beberapa tahun terakhir, ekstremis Sunni mengaku bertanggung jawab atas berbagai serangan teroris di seluruh dunia. Pada tahun 2011 misalnya, ekstrimis Sunni bertanggung jawab atas 56%lebih dari 10.000 serangan di seluruh dunia dan sekitar 70% dari semua kematian akibat terorisme non-negara.

Produk Lainnya