BLANTERAFFILIASHOPv101

Radikalisasi melalui Pemahaman Agama

Radikalisasi melalui Pemahaman Agama

Radikalisasi melalui Pemahaman Agama, Media Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam,Proses Radikalisasi: Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam, Mengenal Radikalisasi (Radikalisasi & Deradikalisasi), Radikalisme dan Terorisme, Islamisme, Radikalisme dan Terorisme, Menelisik Faktor Radikalisme Agama, Karakteristik Radikalisme Agama, Memahami Makna Radikalisme (Radikalisasi & Deradikalisasi Pemahaman Islam) , Idwar Anwar, Radikalisme

Masyarakat dengan segala pemikirannya dan perilakunya terus berkembang. Perkembangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Shyan Fam menyatakan bahwa perilaku dan sikap masyarakat biasanya dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, termasuk faktor ideologi dan paham keagamaan. 

Ia menyatakan “Religious beliefs play a significant part in sculpting social behavior. Differences in religious affiliations tend to influence the way people live, the choices they make, what they eat and whom they associate with.”, pemahaman keagamaan dan afiliasi keagamaan memiliki pengaruh terhadap bagaimana cara orang hidup, penentuan pilihan, makanan yang mereka makan dan dengan siapa mereka bergaul. 

Berdasarkan pernyataan ini, maka wajar bila beberapa pakar menyebutkan bahwa dalam fenomena radikalisme dan terorisme juga dipengaruhi oleh faktor ideologi, terutama Islam. Maka muncullah istilah Islam radikal. 

Islam radikal adalah istilah yang diberikan kepada kelompok kelompok yang beraliran keras dalam menuntut penegakan syariat dengan jalan yang dianggap sebagai jihad.  Praktek kekerasan yang seringkali ditampakkan oleh sejumlah kelompok-kelompok Islam tertentu terhadap simbol-simbol Barat tentunya tidak dapat digeneralisasi begitu saja, dan tidak bisa dianggap bahwa Islam itu identik dengan kekerasan. Karakteristik Islam radikal yang lain adalah interpretasi simbolik Islam.

Pemahaman teks agama yang tidak tepat dapat menjadikan seseorang menjadi radikal, terlebih pemahaman tersebut sengaja disalahgunakan oleh kelompok tertentu dalam rangka merekrut kader untk menjadi teroris. Al-Qaradhawi menjelaskan berbagai penyebab orang menjadi radikal, setidaknya ada dua poin faktor yang terkait dengan pemahaman keagamaan seseorang, yaitu: pertama, pengetahuan agama yang setengah-setengah karena diperoleh melalui proses pembelajaran yang doktriner. Kedua, literal dalam memahami teks-teks agama sehingga kalangan radikal memahami Islam sebatas kulitnya tidak menjangkau esensi ajaran.

Radikalisasi pemahaman agama biasa dilakukan melalui penanaman doktrin kekersan melalui “mimbar” dengan mengatasnamakan agama. Hal ini bertujuan untuk merekrut kader radikal baru.

Namun demikian, pada dasarnya radikalisasi tidak otomatis menjadikan seseorang menjadi teroris. Menurut Morgan, radikalisasi belum meniscayakan individu melakukan tindak kekerasan karena masih ada tahapan berikutnya yang disebut dengan violent radicalization, yakni keterlibatan individu dalam kelompok teroris.

Ada lima faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang berpaham radikal dalam beragama, yaitu, 

Pertama, gerakan salafi wahabi. Gerakan ini dianggap sangat mempengaruhi pergeseran menuju radikal. 

Kedua, pengaruh figur radikal.  Sejumlah figur seperti Osama bin laden dan Anwar al-Awlaki memang menjadi inspirasi dalam pemahaman radikal. Hal ini terkait dengan seruan jihad, khususnya di wilayah Timur Tengah. 

Ketiga, justifikasi dari pelaku teror, khususnya yang beragama Islam. Di dunia Muslim, gerakan radikal muncul selama abad ke-20 setelah Muslim terjajah negara (di Afrika, Timur Tengah, dan Asia) merdeka dan menjadi negara dikendalikan rezim otoriter. Hal ini menimbulkan reaksi dari tokoh-tokoh berpengaruh, misalnya Abul A ‘la Maududi, Sayyid Qutb, dan Abdul Salam Faraj, yang mengidealisasikan negara Islam dan menganjurkan kekerasan pemberontakan. memunculkan kelompok kelompok militan di negara-negara Muslim. 

Keempat, Persepsi otoritas ilmiah. Ada masalah dengan otoritas ilmiah yang dirasakan dan interaksinya dengan radikalisasi. 

Kelima, pengalaman religius seseorang yang terus berkembang. Pengalaman religius Transisi (Tres) telah diidentifikasi secara umum sebab awal radikalisasi.

Seseorang bisa berpaham radikal karena pemahaman agama bila pemahaman agama dilakukan secara instan dan menggunakan cara pandang “selain Islam kelompok mereka adalah musuh”. Radikalisasi pemahaman agama dilakukan dengan memberikan pemahaman pemahaman keagamaan yang keras dan anti toleransi. 

Pemahaman agama ini diberikan dengan menafsirkan teks-teks agama (Al-Quran dan al Sunnah) secara atomistik, tekstual dan tidak mempertimbangkan aspek sosio-kultural masyarakat saat ini. 

Radikalisasi agama relatif lebih mudah dan diterima, terlebih bila dilakukan terhadap orang minim penguasaan agama dan basic ilmu agamanya kurang mendalam atau bahkan tidak punya sama sekali. 

Oleh karena itu mereka cukup mudah untuk menerima ajaran agama yang mereka yakini tepat dan sesuai dengan praktik Rasulullah saat itu. Karena ada “ruang kosong” dalam pemikiran, jiwa dan hati mereka.

Produk Lainnya