BLANTERAFFILIASHOPv101

Buku Kenangan (Buku Peringatan) Yang Diterbitkan Dalam Rangka Memperingati 25 Tahun Bertahtanya Sri Paduka P.A.A. Paku Alam VII Kepala Kerajaan Paku Alam 1906 — 1931

Buku Kenangan (Buku Peringatan) Yang Diterbitkan Dalam Rangka Memperingati 25 Tahun Bertahtanya Sri Paduka P.A.A. Paku Alam VII Kepala Kerajaan Paku Alam 1906 — 1931

Buku Kenangan (Buku Peringatan) Yang Diterbitkan Dalam Rangka Memperingati 25 Tahun Bertahtanya Sri Paduka P.A.A. Paku Alam VII Kepala Kerajaan Paku Alam 1906 — 1931

UNDUH GRATIS
Informasi: UNDUH BUKU INI SECARA GRATIS pada salah satu LINK di bahwah ini.
Kepada Sri Paduka Pangeran Adipati Ario Paku Alam VII Commandeur in de Orde Van Oranje — Nassan Ridder in de Orde Van den Nederlanshen Leeuw, Commandeur in de Orde Van de ster Van Anjonan Commandeur in de Orde Van de Kroom Van Siam, Ridder in de Orde Van Hendrik Den Leeuw Van Brunswijk, Commandeur in de Orde Van de Zwarte Ster Van Benin, Kolonel bij de Generalen Staf Van het Nederlandsch Indische Leger.
Kepala Kerajaan Paku Alam Buku Kenangan (Buku Peringatan) ini dipersembahkan oleh Perkumpulan HABI DARMO WARGO di Yogyakarta.
***
PENDAHULUAN
Perkumpulan “Habi Darmo Wargo” di Yogyakarta telah memberi penghormatan pada saya, untuk memberikan sepatah dua patah sebagai pengantar pada buku kenangan” ini.
Dengan senang hati saya akan-melaksanakan, karena dengan demikian saya merasa ikut membantu mengabadikan peringatan 25 tahun pemerintahan Kerajaan Paku Alam. Akan tetapi ada sesuatu perasaan: yang mencégah saya, untuk menulis lebih banyak dari pada beberapa kalimat ini, mengingat bahwa saya sebagai anggota dari keluarga Paku Alam sudah barang tentu akan melampaui batas-batas obyektivitas.
Sejarah Dinasti Paku Alam terjadi ‘tanpa’ pengaruh politik apa pun ini tentunya tidak perlu diterangkan lagi. Dari fakta sejarah itu sendiri, yang ‘mempunyai arti khusus, juga bagi segenap anggota keluarga Paku Alam, pasti merupakah suatu "kenangan yang tak ternilai harganya (masa peringatan dua: ph lima tahun bertahtanya-Sri Paku Alam VII).
Menurut kurun waktu perhitungan-Jawa,’ Windu dikenal menurut urutannya, yaitu- Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu: dan Jimakir. Biasanya menurut adat Jawa berdasarkan perhitungan tersebut diadakan peringatan kenaikan tahta Sri Paku Alam VII. Bahwa di sini terjadi suatu penyimpangan dari tradisi, adalah berkat adanya pengaruh-pengaruh Barat.
Dalam banyak segi, pengaruh daya pikir Barat banyak mempengaruhi para bangsawan dan pamong. Kejadian ini bukan hanya untuk kali ini saja dirayakan. Sejak Paku Alam II (1829-1858) sudah mengadakan peringatan seperempat abad bertahtanya.
Masa pemerintahan Sri Paku Alam VII ditandai oleh rasa kebijaksanaan dan tanggung jawab yang tinggi. Tujuan utamanya ialah demi Perdamaian yang merupakan induk dari kemakmuran rakyat. Mengenai pribadi Sri Paduka Paku Alam VII, ia adalah penganut dari azas-azas yang telah ditentukan oleh para leluhurnya, yaitu bahwa seorang pemimpin yang ingin mencapai kedudukan yang kukuh, harus berusaha mengabdi dengan tulus untuk memperoleh penghormatan dan cinta dari segenap lapisan rakyatnya.
Yang dimaksud bukan oleh karena kekayaan yang berlimpah dan menepuk dada, bukan karena pandai berpidato dan mempropagandakan ide-ide yang muluk, tetapi karena jasa-jasanya yang ditandai oleh kejujuran dan ikut merasakan suka dan duka rakyatnya, penuh rasa keadilan, dan kebi- jaksanaan.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin, tidak lupa pula dorongan, pengertian dan cinta kasih dari pendampingnya yang setia yaitu Sri Ratu, putri Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono Senopati Ingalogo Abdurahman Sayidin Panoto Gomo X dari Surakarta, dan letnan jenderal tentara Sri Ratu dari Nederland.
Bersama dengan permaisuri, ia berhasil memimpin demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya. Mengetahui hal ini akan membuat suatu kenangan paling indah dan mendalam, sebab ia berhasil melaksanakan pemerintahannya berdasarkan kemampuan dan nalurinya sebagai seorang pemimpin.
Meskipun ia peka terhadap kebudayaan Barat, tetapi ia tetap -menggariskan cara dan gaya kepemimpinannya laksana seorang raja Jawa, penuh dengan toleransi dan pengertian. Itulah sebabnya ia sangat dicintai oleh rakyatnya, baik yang miskin maupun yang kaya dan dari berbagai suku dan ) lapisan.
Doa mereka pada peringatan istimewa ini pasti menyertainya dengan harapan penuh, bahwa ia dapat memimpin rakyat dan Kkerajaannya hingga mencapai peringatan 50 warsa (tahun). Semoga ia selalu dikaruniai kekuatan iman dan sehat walafiat, selalu dikelilingi oleh mereka yang sangat dikasihi. Ini juga menjadi do’a dan harapan.
Pangeran Adipati Ario Kusumo Yudo Batavia 17 Desember 1931.
***

ASAL—-USUL KERAJAAN PAKU ALAM

Hingga kedatangan Gubernur Jendral Daendels pada tahun 1808, Pemerintah Belanda sebanyak mungkin memberikan kebebasan kepada para raja Jawa. Pemerintah Belanda hanya mengawasi dari jauh. Setelah Marsekal Daendels memegang tampuk pimpinan, terjadilah perombakkan yang drastis.
Di samping itu hubungan antara para raja Jawa dengan Pemerintah Belanda mengalami perubahan. Tidak hanya pemerintahan di Jawa bagian timurlaut yang dihapus dan penarikan kembali para Residen di bawah naungan gubernur Semarang yang harus diganti oleh dewan menteri raja Belanda, yang mewakili Marsekal Daendels, tetapi juga banyak perubahan terjadi di kalangan istana (kraton) tentang upacara-upacara adat, yang disusun kembali dan diku- - kuhkan pada tanggal 28 Juli 1808.
Tata upacara penerimaan tamu agung telah diciptakan oleh Daendels untuk menggantikan tata upacara lama, khususnya upacara penerimaan tamu agung yang mewakili hubungan antara pemerintahan Hindia Belanda dan pemerintahan para raja Jawa. Pada masa itu yang bertahta di Surakarta adalah Susuhunan Paku Buwono IV (disebut juga »Sunan Bagus™), sedangkan di Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono II (disebut juga Sepuh). Keduanya hanya bisa menerima kenyataan tentang perombakan tersebut dengan sdih hati.
Meskipun kedua raja itu sangat tersinggung perasaannya dan menurut mereka itu semua dianggap sebagai menurunkan derajat, tetapi Sunan Paku Buwono IV menasihatkan agar jangan menentang kemauan Marsekal Daendels; lebih baik menerima saja peraturan-peraturan baru yang telah ditentukan itu.
Namun demikian Sri Sultan tidak semudah itu untuk menerima bahkan ia mengemukakan berbagai keberatan terhadap peraturan-peraturan baru yang jelas akan mengakibatkan banyak cekcok dan insiden-insiden yang kurang baik.
Sementara itu Kesunanan Sala sudah bersedia menerima peraturan-peraturan baru itu. Timbullah tiran pada diri Sri Sultan terhadap saudaranya yaitu Pangeran Notokusumo yang pro - Belanda serta saudara-saudaranya yang lain yang pasti akan menentangnya apabila ia mempertahankan sikap penentangannya.
Oleh karena itu ia pun terpaksa melepaskan tuntutannya, walaupun berat hati sebenarnya harus menerima kenyataan itu. Pengeran Notokusumo yang mendapat perhatian khusus itu, kelak menjadi Sri Paku Alam I. Ia adalah putra Sultan Hamengku Buwono I yang lahir dari Bendoro Raden Ayu Srenggoro, putri Kiai Tumenggung Notoyudo, bupati Kedu. Pangeran Notokusumo lahir pada tahun 1760 dan merupakan putra tersayang Sultan Hamengku Buwono I.
Dalam usia duapuluh tahun ia dinobatkan sebagai Pangeran Notokusumo. Konon almarhum Sultan Hamengku Buwono I sering menyatakan penyesalan hatinya kepada para bawahannya yang setia; bahwa ia merasa terlanjur mengangkat putra sulungnya sebagai Pangeran Mangkubumi, sebab ternyata sifatnya tidak stabil, lagi pula memiliki perasaan “anti Eropa” yang bisa menyebabkan dia kelak tidak disukai oleh bangsa Eropa maupun bangsanya sendiri.
Seandainya almarhum Sultan Hamangku Buwono I lebih teliti dan cermat dalam penentuan siapa yang patut dijadikan Pengaran Mangkubumi, pasti ia akan memilih Pangeran Notokusumo. Tetapi ia takut dan kuatir akan reaksi anti pati dari pihak keluarga kraton sendiri, yang mungkin bisa menyebabkan perang saudara.
Syahdan, Pangeran Notokusumo tetap bertahan sebagai pribadi yang kuat dan kokoh. Pangeran Mangkubumi selalu merasa iri akan perlakuan almarhum ayahnya terhadap adiknya semasa hidup ayahandanya. Maka dari itu ia tetap menganggap Pangeran Notokusumo sebagai saingan yang berbahaya terhadap tahtanya, sehingga ada kecenderungan untuk menekan adiknya terus-menerus.
Informasi yang kami peroleh tentang kepribadian Pangeran Notokusumo ialah : bahwa ia adalah seorang yang sangat baik budi dan bercita-cita tinggi serta bersimpati pada bangsa-bangsa Eropa. Perkawinannya dengan putri bungsu Tumenggung Sasrawinata, juga adik Raden Ayu Adipati Sepuh (istri Pangeran Mangkubumi) oleh ayahandanya dirayakan dengan besar-besaran. Suatu bukti betapa besar cinta-kasihnya terhadap Pengeran Notokusumo.
Ada lagi suatu bukti bahwa ia itu sangat sayang pada putranya, yaitu sewakfu gubernur Jawa Timur Laut R. Van der Burgh menyerahkan jabatan kepada J. Siberg dan kedua pemimpin ini bertamu ke Yogyakarta. Sri Sultan (ayahandanya) selalu memuji kecakapan dan kepribadian Pangeran Notoekusumo. Dalam Babad Jawa diberitakan, bahwa Pangeran Notokusumo itu terus-menerus mempelajari literatur Jawa, politik dan ketatanegaraan kerajaan.
Guru yang mendampinginya adalah - Pangeran Diponegoro yang baru kembali dari pengasingan di Srilangka; juga Raden Tumenggung Notoyudo dan Patih Danurejo. Waktu Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Hamengku Buwono II (Sepuh), keadaan Pangeran Notokusumo makin lama makin terdesak.

Produk Lainnya