Program deradikalisasi memang harus disusun dengan konsep baru sehingga kelak tidak ada lagi orang muda kita yang bisa dibujuk atau dicuci otaknya untuk menjadi teroris. Program deradikalisasi ini harus digalakkan sejak dini, kalau perlu sejak pendidikan dasar. Bukan hanya terfokus di Perguruan Tinggi sebagaimana berlangsung selama ini.234 Berdasarkan hal ini, maka sekolah dituntut untuk berperan aktif dalam deradikalisasi paham agama.
Lembaga pendidikan dapat dioptimalkan sebagai sarana radikalisasi, namun ia juga dapat menjadi sarana untuk membendungnya. Sekolah dapat dijadikan sarana mengkonter paham pemahaman agama yang ekstrim. Hal ini yang juga dilakukan di Abu Dhabi. Di sana ada suatu lembaga yang bernama Counter Violent Extremism (CVE). Studi yang relevan empiris dari bidang psikologi, sosiologi, dan ilmu sosial lainnya, kajian tentang pencegahan kejahatan dan kekerasan, teori pembelajaran, sektor pembangunan, dan resolusi konflik, menawarkan pelajaran berguna berlaku untuk intervensi CVE. Studi ini juga menunjukkan perlunya pendekatan multi-disiplin untuk garapan CVE dan pendidikan. Universitas, lembaga riset swasta, LSM, dan masyarakat sipil juga mungkin memiliki akses ke data dan studi yang bermanfaat untuk pengembangan kurikulum atau sebagai bukti untuk membenarkan reformasi kurikulum. Penelitian lebih lanjut, seperti kebutuhan-penilaian, studi persepsi ‘, analisis dari literatur yang ada pendidikan dan statistik, serta pengemb
Menurut Macaluso, Mempromosikan akses yang sama terhadap pendidikan, mendukung kelas campuran, dan menciptakan ruang untuk sosialisasi merupakan komponen penting dari setiap strategi pendidikan yang berusaha untuk membangun perdamaian. Pendidikan harus dilihat sebagai proses belajar yang berkesinambungan. Oleh karena itu penting untuk merancang pendekatan yang memperhitungkan tidak hanya fase kritis, yang sering berhubungan dengan sekolah menengah, tetapi juga sekolah yang paling penting dan utama. Sekolah merupakan laboratorium di mana anak-anak bereksperimen dengan keragaman, empati, dan lebih umum interaksi, baik dengan rekan-rekan mereka dan dengan otoritas. Oleh karena itu sekolah harus melatih anak-anak untuk mengalami hidup dalam skenario yang jauh lebih kompleks dari masyarakat, menyediakan mereka dengan keterampilan sosial, yang sering diabaikan dalam konteks pendidikan formal dan tentu diremehkan selama tahun-tahun awal.
Berkaitan dengan hal ini, Dupuy menyatakan:
"Despite the lack of a “recipe” to prevent or eradicate radicalization, knowledge is extensive on how education can help address some of the drivers to racialization, such as feelings of exclusion and perceived inequality, lack of civic identity, and the need to belong to a group or community. The literature on peace education suggests that education can offset these factors by raising awareness, generating respect for others, and creating and maintaining cultures of peace and dialogue.42 More specifically, education can play a significant role in mitigating conflict at three levels: structural, behavioral, and attitudinal. It can strengthen social cohesion and citizen trust in institutions (structural), improve interactions among students (behavioral), and promote inclusiveness and respect for diversity (attitudinal)."
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berbasis keislaman, menanggulangi paham dan gerakan Islam radikal adalah sebuah kewajiban. Sekolah tidak hanya harus memperhatikan para siswanya saja, melainkan juga gurunya. Guru pendidikan agama Islam merupakan pendidik yang tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran semata. Melainkan juga mendidik dan menanamkan nilai-nilai keislaman pada siswa. Jangan sampai guru pendidikan agama Islam di suatu sekolah justru menyebarkan paham dan gerakan Islam radikal. Jangan sampai ada guru pendidikan agama Islam yang memasukkan (paham-paham) radikal kepada siswa yang masih dangkal pemahamannya tentang Islam.238 Penenaman nilai-nilai keislaman dan dikombinasikan dengan nilai budaya dan keindonesiaan inilah yang menjadi wahana deradikalisasi di sekolah.
Sekolah sangat berpeluang menjadi penyebar benih radikalisme sekaligus penangkal Islam radikal. Oleh sebab itu, sekolah menjadi tempat yang sangat strategis untuk melakukan pembinaan keagamaan sekaligus sebagai upaya deradikalisasi. Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak hanya sebatas mengajarkan materi pendidikan agama sesuai apa yang ada dalam RPP saja, melainkan juga melakukan pembinaan keagamaan melalui berbagai kegiatan baik intrakulikuler maupun ekstrakulikuler.
Di sekolah yang berbasis keagamaan seperti di Madrasah Aliyah, pembinaan keagamaan jauh lebih intensif bila dibandingkan dengan di Sekolah Menengah Atas biasa. MAN 1 Kota Metro misalnya, ada beberapa siswa pilihan yang diasramakan agar mereka mendapatkan pelajaran agama yang lebih intensif. Mereka mendapatkan pelajaran tambahan siang dan malam hari.239 Pembinaan keagamaan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Metro dilakukan secara intens oleh para guru di asrama siswa. Materi-materi keagamaan yang diberikan kepada siswa-siswi pilihan tersebut lebih detail dari yang diberikan di kelas dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Materi bahasa, al-Quran, Hadis, fiqih dan pelajaran lainnya dikaji secara mendalam oleh guru pilihan. Hal ini dilakukan agar siswa mendapatkan pemahaman agama yang tepat dan terhindar dari pemahaman agama yang radikal.
Sementara di sekolahan umum, seperti di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kota Metro, intensifikasi pendidikan dan materi keagamaan tidak se-intens di sekolah berbasis agama. Meskipun dmeikian, sekolah tetap memberikan pendalaman atau tambahan materi keagamaan kepada para siswa. Pendalaman atau tambahan materi keagamaan biasanya diberikan pada program pesantren kilat yang waktunya sangat singkat, dan hanya dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada saat bulan Ramadhan.
Selanjutnya... Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro (2)
