BLANTERAFFILIASHOPv101

Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro (2)

Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro (2)

Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro, Lembaga Pendidikan dan Deradikalisasi, Mengapa Perlu Deradikalisasi Pemahaman Agama

Pada kegiatan pesantren Ramadhan, siswa diberi materi-materi keagamaan, terutama masalah ubudiyyah. Siswa diberi materi praktis masalah ibadah shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan di bulan Ramadhan. 

Meskipun pesantren Ramadhan hanya instan, karena hanya berlangsung 3-5 hari, namun siswa-siswi dapat pemahaman dan pembinaan keagamaan yang setidaknya menjadi tambah wawasan keagamaan mereka. Kegiatan pesantren Ramadhan ini juga menjadi wahana untuk mengenalkan pemahaman agama Islam yang lemah lembut dan dapat membentengi siswa dari pemahaman agama yang radikal.

Untuk sekolah-sekolah keagamaan yang berafiliasi kepada Organisasi Sosial Keagamaan NU dan Muhammadiyyah, seperti di SMA 1 Ma’arif dan SMA Muhammadiyyah 2 para siswa diberi pembinaan keagamaan melalui kegiatan dan organisasi ekstrakurikuler. Bila di sekolah menengah NU dilakukan melalui organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Sementara pada SMA Muhammadiyyah, termasuk SMA Muhammadiyyah 2 Metro, pembinaan keagamaan bisa didapatkan melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Keberadaan IPNU memiliki posisi strategis sebagai wahana kaderisasi pelajar NU sekaligus alat perjuangan NU dalam menempatkan pemuda sebagai sumberdaya insani yang vital, yang dituntut berkiprah lebih banyak dalam kancah pembangunan bangsa dan negara dewasa ini. Organisasi IPNU dan IPPNU tidak hanya menjadi wahana pengembangan jiwa organisasi siswa.

Lebih dari itu, organisasi ini menjadi wahana pengembangan pemahaman dan wawasan keislaman para siswa atau pelajar yang berlatar belakang NU. Materi-materi dalam berbagai pelatihan organisasi IPNU dan IPPNU mencakup materi keagamaan, terutama Aswaja atau wawasan Ahli Sunnah wal Jamaah. Kegiatan semacam ini sangat efektif untuk memberikan wawasan keislaman yang ramah dan membentengi siswa dari paham agama yang radikal.

Sementara itu, Ikatan Pelajar Muhammadiyyah (IPM) merupakan wahana untuk membentuk dan mengembangkan Pelajar Muslim yang berilmu, berakhlak mulia dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 

IPM menempuh berbagai langkah untuk mewujudkan generasi Muhammadiyyah yang berkualitas. Hal ini ditempuh melalui berbagai macam pelatihan, seminar-seminar, workshopdan lain sebagainya IPM melakukan proses penyadaran terhadap pelajar akan peran serta fungsi pelajar sebagai obyek maupun subyek dari proses pembelajaran dan perubahan.

IPM bukan hanya sekadar wadah pengembangan wawasan keagamaan pelajar atau siswa, namun sebagai pengembangan diri, termasuk pembangunan dan pengembangan karakter mereka. Karakter keislaman dan keindonesiaan serta nilai-nilai dan kearifan lokal. Materi keagamaan dan pengembangan diri semacam ini bisa menjadi wahana efektif untuk melakukan deradikalisasi pemahaman keagamaan para siswa.

Pengembangan keilmuan, keislaman dan keindonesiaan dan pembangunan karakter siswa di dalam sekolah sudah semaksimal dilakukan oleh sekolahan. Menurut Suparni, sekolah telah berupaya untuk mengawasi para siswa dengan ketat. SMAN 1 Kota Metro adalah salah satu sekolah yang memiliki aturan ketat. Seluruh siswa selalu diawasi, mulai dari tingkah lakunya, cara berpakaiannya hingga prestasi dan potensi diri yang dimiliki para siswanya. 

Pengawasan ini bertujuan untuk menilai dan melakukan perubahan pada tiga kualitas aspek pendidikan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ini juga merupakan salah satu upaya deradikalisasi yang dilakukan sekolah. Karena dengan selalu mengawasi para siswanya dengan ketat, sekolah dapat mengindikasi para siswa yang terlibat dalam paham dan gerakan Islam radikal.

Dalam suatu sekolah, ada berbagai macam latarbelakang dan karakter siswa yang berbeda-beda. Bisa jadi muncul siswa-siswi yang menganggap dirinya “alim” dan mengikuti pengajian yang di dalamnya ada baiat, fanatik, menyerang kelompok Islam lain. Jika siswa sudah mulai berani kepada guru dan orang tua, memiliki cita-cita jihad dan mendirikan negara Islam maka guru-guru PAI di sekolah harus mulai waspada. Hal ini merupakan upaya deradikalisasi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah, disamping sekolah memainkan peran positifnya dengan mengajarkan Islam moderat.

Sekolah adalah pihak yang terlibat langsung dengan siswa dalam pembelajaran agama. Sekolah juga merupakan lembaga yang bertindak sebagai komunitas yang peduli dan sanggup memenuhi ekspektasi para siswa. Untuk itu, sekolah perlu menjalin komunikasi yang komunikatif, terbukadan saling mengerti satu-sama lain. Sebagai sebuah lembaga yang paling dekat dekat para siswa, sekolah perlu melakukan berbagai upaya preventif agar peserta didiknya tidak terjerumus dengan hal-hal yang berbau radikal.

Sementara itu, menurut Karsoyo, sekolah melakukan upaya preventif dengan membentuk mental dan sikap para siswa dengan menanamkan nilai-nilai religius dan nilai tradisional yang positif. Paham dan gerakan Islam radikal itu pada dasarnya disebabkan karena nilai-nilai religius yang masih dangkal. Deradikalisasi melalui nilai-nilai Islam yang humanis, inklusif dan toleran akan menghargai keragaman, termasuk keragaman budaya. 

Penenaman sens of belonging terhadap budaya lokal danbudaya bangsa serta memberikan pemahaman untuk membedakan Islam dengan budaya Arab akan menjadikan siswa peduli terhadap budaya bangsa. Pemahaman ini akan menjadikan siswa lebih proporsional dalam menyampaikan sikap danperilaku keagamaan, tidak akan memosisikan agama vis a vis budaya lokal atau budaya bangsa. 

Mereka akan memahami bahwa tidak ada pertentangan antara Syariat Islam dengan budaya bangsa Indonesia atau budaya lokal tertentu. Nilai-nilai moral Islam dana menjadi spirit bagi budaya-budaya tersebut.

Selanjutnya... Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro (3)

Sebelumnya... Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro (1)

Produk Lainnya