BLANTERAFFILIASHOPv101

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (2)

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (2)

Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro, Lembaga Pendidikan dan Deradikalisasi, Mengapa Perlu Deradikalisasi Pemahaman Agama

Sekolah Menengah Ma’arif 1 Kota Metro malah tidak melakukan f ilter secara ketat terhadap tutor yang memberikan materi keagamaan pada kegiatan ekstrakurikuler. Untuk kegiatan rutinan sekolah seperti kultum atau pengajian setiap minggu disekolah, biasanya pengisi kultum atau pengajian berasal dari guru PAI sendiri. 

Sementara itu, untuk acara acara besar keislaman seperti peringatan Maulid Nabi, pesantren kilat, songsong Ramadhan dan kegiatan-kegiatan lain, maka engsisi acara bisa berasal dari guru PAI sendiri dan sebagian berasal dari luar sekolah. Jika pengisi acara kegiatan berasal dari guru PAI sendiri, pihak sekolah telah mengenal secara dekat. 

Namun bila pengisi kegiatan keagamaan berasal dari luar, pada dasarnya banyak pihak yang tidak kenal dan atau kalaupun tahu tapi tidak lengkap.259 Hal ini menunjukkan bahwa pihak sekolah yang berafiliasi dengan Ma’arif lebih terbuka dan memberikan kesempatan kepada pihak luar untuk memberikan materi keagamaan pada kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Sama halnya dengan SMA Ma’arif 1 Kota Metro yang memfasilitasi kegiatan ekstrakulikuler dalam bentuk kegiatan IPPNU (Ikatan Persatuan Pelajar Nahdlatul Ulama), SMA Muhammadiyah 2 Kota Metro juga memfasilitasi para siswanya dalam kegiatan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah).

Demikian juga dengan MAN 1 Metro yang didalamnya terdapat boarding school bagi parasiswanya. Contoh-contoh ini merupakan salah satu upaya deradikalisasi oleh sekolah yang terlepas dari kegiatan intrakulikuler siswa.

Sekolah harus memberikan yang aman ruang untuk diskusi dan konfrontasi di mana siswa diminta untuk menguji akal kritis dan berpikir melampaui tabu dan asumsi umum. Meskipun tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa kritis berpikir dapat membuat individu kebal terhadap radikalisasi, cukup bukti menunjukkan bahwa keterampilan ini dapat pasti membantu melawan faktor penarik khas. 

Profesor Richardson, baru-baru ini dinominasikan sebagai wakil Kanselir dari Universitas Oxford, mengamati bahwa “Setiap teroris yang pernah saya temui selalu melihat dunia dengan sangat sederhana, yaitu hitam dan putih. Pendidikan akan menghalau pandangan semacam ini, artinya dunia tidak bisa dipandang hanya hitam dan putih. Pendidikan adalah yang terbaik mungkin obat penawar radikalisasi.

Bila sekolah dipahami sebagai institusi garis terdepan dalam membangun generasi, maka diskusi dan guru menjadi salah satu bagian terpenting dalam melawan ekstremisme. Diskusi yang menekankan perlunya keterampilan hidup yang diperlukan dalam abad ke-21, dan bagi guru untuk menyadari serta selalu bersikap waspada terhadap tanda tanda radikalisasi, dengan menanamkan keterampilan dan kapasitas untuk bertindak bagi para siswa.

Sekolah dapat menjadi sarana efektif dalam melakukan deradikalisasi dengan menempuh beberapa langkah sebagai berikut:

Pertama, Menggabungkan pengalaman dan tangan-kesempatan belajar dalam kurikulum kelas reguler. Sekolah dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan pemikiran kritis dan pelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam pengaturan kehidupan nyata seperti peluang relawan, ikut serta dalam program donor darah atau proyek sekolah lainnya. Pengembangan keahlian untuk membangun ketahanan terhadap ekstremisme bisa lebih efektif jika belajar berasal dari pengalaman langsung.

Kedua, Menyediakan mekanisme untuk mengatasi keluhan dari siswa dengan cara terbuka dan aman. Sekolah juga dapat mempertimbangkan pelatihan guru-guru mereka tentang cara efektif untuk terlibat dalam perdebatan dengan siswa tentang topik-topik sensitif dengan cara-cara yang tidak jauh berbeda dengan radikalisasi seseorang. 

Sekolah juga dapat menginstruksikan siswa agar belajar dan memberikan tuntunan tentang strategi mengendalikan emosi dan menyalurkan kemarahan dengan cara yang konstruktif. Strategi yang tepat untuk mengelola kemarahan dapat membantu individu dari tindakan kekerasan.

Ketiga, Mempertimbangkan untuk memberikan insentif bagi orang tua untuk pendaftaran anaknya ke sekolah dan memastikan semua anak memiliki akses ke pendidikan. Dalam banyak konteks, pemuda yang tidak memiliki akses ke pendidikan atau sekolah formal, atau yang memilih untuk melupakan pendidikan, mungkin rentan terhadap perekrutan dan radikalisasi kekerasan.

Deradikalisasi di sekolahan akan berjalan efektif bila guru dapat:

a. Menghubungkan isu ekstremisme kekerasan untuk konten dalam kurikulum;

b. Memahami keragaman sosial, budaya, etnis dan agama dari konteks lokal;

c. Mengakomodir perspektif kelompok minoritas dalam diskusi atau setidaknya memastikan bahwa pandangan mereka diwakili;

d. Menguatkan peran guru dalam proses pembelajaran siswa;

e. Mengidentifikasi waktu yang tepat, karena isu-isu kontroversial tidak boleh dibahas sembarangan.

Sebelumnya.... Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro (1)

Produk Lainnya