BLANTERAFFILIASHOPv101

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (3)

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (3)

Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital, Deradikalisasi melalui Kegiatan Kulikuler: Sharing dari Kota Metro Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Deradikalisasi melalui Ekstrakulikuler: Sharing dari Kota Metro, Pembinaan Keagamaan di Sekolah dan Deradikalisasi: Gambaran di Kota Metro, Lembaga Pendidikan dan Deradikalisasi, Mengapa Perlu Deradikalisasi Pemahaman Agama

Pada masa modern, keberadaan pesantren masih tetap berperan, berdampingan dan bersinergi dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Pesantren memberi respon yang dinamis terhadap tuntutan dan perkembangan zaman, tanpa kehilangan karakteristiknya. Pesantren tetap menjaga peran vitalnya sebagai sistem pendidikan yang utuh dan menyeluruh dalam rangka ibadah kepada Allah. Dalam sistem pendidikan pesantren, keseluruhan kegiatan pendidikan didasarkan pada prinsip ibadah sehingga tidak satu detik pun waktu terbuang secara sia-sia. 

Pada waktu yang bersamaan, pesantren pun mengalami tekanan karena kebijakan pendidikan nasional yang kurang memihak pada pengembangan tradisi pesantren. Banyak pesantren hanya mampu menyelenggarakan pendidikan tingkat dasar dan menengah sehingga tidak mampu mencetak ulama yang unggul. Pesantren-pesantren seperti ini mengalami degradasi dan bahkan lebih disibukkan dengan penyelenggaraan sekolah dan madrasah. Fenomena ini di satu sisi merupakan respon positif karena berhasil memadukan pendidikan modern ke dalamnya. Tetapi, di sisi lain, perkembangan ini sangat mengkhawatirkan fungsi akademik pesantren sebagai pencetak ulama dan ahli-ahli agama yang unggul.

Dengan demikian maka jelas bahwa pondok pesantren tidak hanya bisa bertahan, akan tetapi juga berkembang dan menempati posisi penting dalam percaturan pendidikan di Indonesia. Dalam mengembangkan pola pendidikan dan mentransformasikan menjadi lembaga pendidikan modern Islam, nampaknya pondok pesantren tidak tergesa-gesa dan cukup berhati-hati. 

Hal ini terlihat dari penerimaan dan penyesuaian pola pendidikan yang hanya dalam skala yang sangat terbatas, sebatas terhadap hal-hal yang mendukung komunitas pesantren itu sendiri. Azyumardi Azra berpendapat bahwa pesantren pada mulanya hanya rural based institution kemudian menjadi lembaga pendidikan urban, yaitu munculnya sejumlah pondok pesantren di kota-kota.

Ketika gerbang reformasi dibuka, peran dankiprah pesantren semakin diperhitungkan dalam berbagai bidang, bidang pendidikan, ekonomi politik dan sosial. Dalam bidang politik misalnya, pesantren dilirik oleh kalangan elit politik sebagai aset yang dapat dengan mudah menjadi penunjang tujuan politik. Hal ini karena sentralitas kepemimpinan Kiai yang sering didekati oleh kalangan elit politik.

Pesantren perlu memerhatikan secara serius pengembangan di bagian sektor pendidikan. Ini dimaksudkan agar dapat memobilisasi kader yang tidak hanya terfokus pada kajian keagamaan saja, tapi bisa menjadi intelektual di kajian disiplin lainnya, seperti teknologi, informatika, serta sains. Perlunya pengembangan dan pengembangan SDM yang berkualitas serta kompetibel (Sholihun li kulli zaman wa al makan) termasuk prinsip darial-muhafazhah ‘alal qodim ash-sholih wal akhdzu bi aljadid al-ashlah

Maksudnya landmark pesantren sebagai lembaga pendidikan yang identik dengan pendidikan ilmu sosial keagamaan tetap dipertahankan dan lebih di tingkatkan. kemudian peran di bidang-bidang lain yang belum optimal seperti pembangunan ekonomi umat, penguasaan ilmu-ilmu teknologi modern, sains, teknik sipil dan lain sebagainya harus mendapat perhatian yang lebih serius melalui aksi konkret.

Manajemen pemberdayaan SDM perlu ditingkatkan demi kualitas SDM yang dibutuhkan terutama pada penguasaan ilmu teknologi. Yaitu yang pertama, melakukan revisi kurikulum, selain meningkatkan kualitas kurikulum keagamaan. Kurikulum pesantren perlu diperkaya dengan ilmu pengetahuan umum yang mengacu pada penguasaan sains modern. 

Tidak itu saja, perlunya pengembangan kreativitas civitas pesantren mulai dari soft skill, hingga hard skill guna memberikan bekal kreatif yang dapat memacu kreativitas civitas pesantren sndiri. Kedua, perlunya pengembangan lembaga praktikum sebagai fasilitas penguasaan sains modern bagi civitas pesantren. 

Seperti membuka lembaga kursus jahit, labolatorium komputer hingga labolatorium musik. Tidak mengurangi sifat ilmiah bila dikutip sinyalemen az-Zarnuji yang mengatakan bahwa sebaik-baik ilmu adalah ‘ilmu hal (ilmu keterampilan).

Jika seluruh perubahan diatas dilakukan dengan semangat pembangunan SDM yang mumpuni, maka pesantren yang menjadi basis pendidikan islam di indonesia dapat memiliki relevansi dengan tuntutan dunia modern baik pada masa kini hingga masa mendatang 

Meski begitu perlu diperhatikan bahwa dalam kontekstualisasi dan transformasi sistem pendidikan dibutuhkan pertimbangan karakter pondok pesantren agar tidak ada ketimpangan yang terjadi dalam internal pesantren sendiri.

Sebelumnya.... Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (2)

Produk Lainnya