Ketika ada wacana Islam liberal, pondok pesantren juga tidak mau tinggal diam, para santri menggeluti pemikiran Islam kontemporer yang kekiri-kirian. Mereka juga mulai merambah dan menekuni teori-teori sosial.
Bahkan santri-santri atau mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan pesantren tampak mempunyai pandangan keislaman yang cukup berani jika dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah belajar di pesantren.
Hal ini tidak terlepas dari peran civitas akademika pesantren yang mulai membuka diri dengan mengenal literatur-literatur tentang wacana Islam kontemporer seperti, Syed Hussein Nashr, Fazlurrahman, Hasan Hanafi, Nashr Hamid Abu Zaid dan intelektual Islam kontemporer lainnya.
Arus Globalisasi dengan produk teknologi informasi dan komunikasi dapat diimbangi oleh pondok pesantren dengan menggunakan peralatan-peralatan berteknologi dalam menunjang proses belajar dan mengajar. Penggunaan peralatan berteknologi diharapkan dapat memperluas jaringan dakwah sesuai visi dan misi dari masing-masing pondok pesantren.
Alat-alat berteknologi seperti LCD, Internet, Laptot saat ini sudah tidak asing lagi bagi pondok pesantren. Penggunaan internet yang dibatasi dilakukan demi mengawasi santri untuk tidak memanfaatkan internet pada sesuatu yang tidak berguna. Di pondok pesantren, para santi di ikutsertakan pada pelatihan atau training pengoperasian, hingga training pengunnaan alat-alat tersebut demi menambahkan wawasan santri agar tidak dianggap gagap teknologi.
Pendidikan pesantren modern tidakboleh mengesampingkan pendidikan teknologi. Terutama dalam menumbuhkan Islamic technological-attitude (sikap benar berteknologi secara Islami) dan technological-quotient (kecerdasan berteknologi) sehingga santri memiliki motivasi, inisiatif dan kreativitas untuk melek teknologi.
Suatu saat mereka diharapkan mampu merebut teknologi, dan mengembangkan teknologi dengan nilai-nilai kepesantrenan yang kental. Untuk itulah pendidikan semacam SMK didirikan di pesantren. Suatu usaha untuk mencetak tenaga profesional bidang IT tetapi berakhlaq santri.189 Bahkan sudah ada pesantren yang menjadi mitra penyelenggara Program Pendidikan Jarak Jauh berbasis Internet dari sebuah institusi di Jakarta.
Untuk menindaklanjuti program tersebut, diselengarakan workshop yang bertema “Workshop Needs Assessment for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren” yang dilanjutkan dengan “Curriculum Workshop for Distance Learning for Islamic Transformation through Pesantren”. Arahnya memetakan kondisi di pesantren terkait pelaksanaan program dan merancang kurikulum pelaksanaan program.
Santri Pesantren diberi pelajaran untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara-cara yang elegan dan beradab. Dengan kata lain, Pesantren selalu mengajarkan santrinya bagaimana membangun kesolehan spiritual yang diambil dari berbagai sumber, mulai dari klasik sampai kontemporer. Penanaman nilai moral spiritual ini yang ditransformasikan dalam masyarakat atau kesolehan sosial.
Dengan demikian maka alumninya mempunyai tradisi klasik yang mungkin tidak didapatkan dari lemabag pendidikan lain. Tempaan disiplin dan filosofi yang membekas bagi para santri ketika mereka berkiprah di tengah-tengah masyarakat umum. Inilah karakteristik unik yang selalu melekat pada pesantren dan civitas akademiknya.
Dari sini kita dapat melihat bahwa pendidikan pondok pesantren cukup terbuka dan tidak monoton atau kolot. Pesantren dapat menyesuaikan dan sekaligus membawa dirinya dalam segala situasi dan kondisi. Namun demikian perubahan zaman tidak dapat memudarkan eksistensi dan bahkan dijadikan moment untuk mengembangkan pola pendidikan, sehingga melahirkan pemikir-pemikir Islam yang siap terjun di masyarakat dalam kondisi dan situasi apapun.
Pada masa modern, keberadaan pesantren masih tetap berperan, berdampingan dan bersinergi dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Pesantren memberi respon yang dinamis terhadap tuntutan dan perkembangan zaman, tanpa kehilangan karakteristiknya. Pesantren tetap menjaga peran vitalnya sebagai sistem pendidikan yang utuh dan menyeluruh dalam rangka ibadah kepada Allah.
Dalam sistem pendidikan pesantren, keseluruhan kegiatan pendidikan didasarkan pada prinsip ibadah sehingga tidak satu detik pun waktu terbuang secara sia-sia. Pada waktu yang bersamaan, pesantren pun mengalami tekanan karena kebijakan pendidikan nasional yang kurang memihak pada pengembangan tradisi pesantren.
Banyak pesantren hanya mampu menyelenggarakan pendidikan tingkat dasar dan menengah sehingga tidak mampu mencetak ulama yang unggul. Pesantren-pesantren seperti ini mengalami degradasi dan bahkan lebih disibukkan dengan penyelenggaraan sekolah dan madrasah.
Fenomena ini di satu sisi merupakan respon positif karena berhasil memadukan pendidikan modern ke dalamnya. Tetapi, di sisi lain, perkembangan ini sangat mengkhawatirkan fungsi akademik pesantren sebagai pencetak ulama dan ahli-ahli agama yang unggul.
Selanjutnya.... Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (3)
Sebelumnya.... Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren di Era Digital (1)
