BLANTERAFFILIASHOPv101

Pendidikan Agama dan Deradikalisasi: Sketsa di Kota Metro (2)

Pendidikan Agama dan Deradikalisasi: Sketsa di Kota Metro (2)


Pendidikan agama Islam bisa menjadi sarana deradikalisasi bila dilaksanakan dengan cara dan model yang tepat. Menurut Yahya ada beberapa alternatif model pembelajaran (pendidikan agama Islam) yang mestinya dilakukan oleh para guru mata pelajaran agama Islam sekarang ini supaya bisa menghasilkan out-put pendidikan yang inklusif, berwawasan pluralis, dan apresiatif terhadap perbedaan yakni:

Pertama, membentuk pola pikir siswa secara terbuka untuk bersedia menerima kebenaran yang lain, selain kebenaran yang telah diyakini. Oleh karena itu, kita harus menghindari penyampaian pesen pesan Islam secara ideologis-doktrinal yang akan mengedepankan truth claim dalam beragama. Kita harus menyampaikan pula kepada peserta didik bahwa di luar paham kita ada paham lain yang tidak mustahil mengandung kebenaran dan diyakini oleh pengikutnya. Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih mudah bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, yang berbeda agama, ras, dan etnis.

Kedua, membentuk pola pikir siswa untuk bisa menghargai perbedaan secara tulus, komunikatif, inklusif, dan tidak saling curiga, di samping meningkatkan iman dan taqwa. Oleh karena itu, kita harus menghindari penyampaian pemahaman Islam yang hanya bertumpu pada tekstual-normatif. Sudah saatnya siswa harus mengkaji model-model pemahaman Islam, dan mengkontekstualisasikannya dalam kehidupan nyata agar dapat menghasilkan cara pandang yang utuh dan apresiatif terhadap perubahan dan perkembangan jaman yang pluralistik dan komprehensif, yakni dengan pendekatan filosofis dan historis.

Ketiga, para pendidik dalam menyampaikan materi pendidikan harus secara jujur dan transparan sehingga materi pendidikan Islam bisa dipahami oleh peserta didik dalam kehidupan praksis. Pendidik jangan memosisikan diri sebagai “agen/penyalur” madzhab tertentu dengan menyalahkan madzhab yang lain. Dalam hal ini, sangat diperlukan tenaga pendidik yang mampu menerjemahkan pesan-pesan universal keagamaan dengan baik, dan harus mampu menegakkan demokrasi yang mengakomodasi perbedaan.

Keempat, para pendidik hendaknya memahami bahwa dalam pendidikan Islam itu bukan hanya pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga transfer dan internalisasi nilai-nilai (transfer and internalization values) dalam diri peserta didik. Dengan demikian, dalam pendidikan Islam, kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor harus benar-benar menyatu dan terwujud dalam kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, peserta didik jangan hanya diindoktrinasi tentang kesalehan vertikal/individual, tetapi juga kesalehan sosial.

Kelima, para pendidik perlu membiasakan anak-anak mengalami pertukaran budaya (cross cultural exchange) dengan sesama peserta didik. Pengalaman ini akan dapat membantu mereka untuk memahami orang lain dalam sebuah perbedaan. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan pada akhirnya akan menjadi keinginan yang kuat di kalangan mereka. Kedamaian yang senatiasa kita nanti-nantikan akan menjadi kenyataan sesuai dengan peran agama yang membawa pesan perdamaian bagi umat manusia.

Di Kota Metro, pemberian pemahaman agama yang baik dan tidak secara mentah merupakan salah satu cara menanggulangi paham dan gerakan Islam radikal disekolah. Paham radikal pada siswa-siswa SMA bisa jadi juga disebabkan kurangnya pendidikan agama sehingga memudahkan mereka membaca buku (bertema) Islam yang radikal. Untuk itu, guru pendidikan agama Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan pemahaman keagamaan kepada para siswa, baik itu guru pendidikan agama Islam di kelas maupun guru/Pembina kegiatan ekstrakulikuler keagaamaan seperti Rohis.

Pendidikan agama Islam yang diberikan disekolah, sudah seharusnya mengajarkan plurasitas atau keberagaman. Beberapa guru agama di Kota Metro setidaknya menegaskan hal tersebut. Eka Safrianto misalnya, Guru PAI di SMAN 1 Kota Metro ini menyatakan bahwa materi pembelajaran yang disampaikan pada siswa merupakan materi Pendidikan Agama Islam yang menggambarkan Islam sebagai agama yang rahmatin lil alamin. Materi pembelajaran yang disampaikan tidak hanya terpaku pada buku saja, melainkan juga harus disesuaikan dengan masalah keagamaan yang berkembang dalam masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Agama di sekolahan umum disampaikan secara kontekstual, menghargai kebhinekaan. Islam dideskripsikan sebagai agama pembawa rahmat kepada siapa pun, tanpa memandang suku, ras dan agama. Islam adalah agama yang menyatukan dan tidak eksklusif, agama yang tidak mengajarkan kekerasan, tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dan agama yang sangat menjujung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemausiaan.

Di Kota Metro, Pendidikan Agama Islam juga diajarkan secara kontekstual dan bahkan menggunakan pendekatan kultural di Sekolah Menengah Atas yang bercorak keagamaan, seperti Madrasah Aliyah. Begitu juga di Sekolah Menegah Atas yang berafiliasi kepada organisasi Muhamamdiyyah, yaitu Sekolah Menengah Atas Muhammadiyyah 2 Kota Metro. 

Pendekaan kultural lebih kental dan kontekstualisasi materi Pendidikan Agama Islam yang lebih menonjol terdapat pada Sekolah Menengah Atas yang berafiliasi kepada organisasi Nahdlatul Ulama (NU), yaitu SMA Ma’arif 1 Kota Metro. Kontekstualisasi dan pendidikan agama yang tidak rigid merupakan langkah yang tepat dalam menggambarkan agama Islam yang ramah dan humanis.

Selanjutnya... Pendidikan Agama dan Deradikalisasi: Sketsa di Kota Metro (3)

Sebelumnya... Pendidikan Agama dan Deradikalisasi: Sketsa di Kota Metro (1)

Produk Lainnya